KETAULADANAN AKHLAK NABI MUHAMMAD SAW TERHADAP PERKEMBANGAN MORAL DAN ETIKA GENERASI MUDA

OPINI

10/05/2024

Oleh: INTAN KHOIRUNNISA

photo of crowd of people gathering near jama masjid delhi
Photo by Chattrapal (Shitij) Singh on Pexels.com

Pada konteks agama islam, moral diketahui atas istilah akhlak. Moral memiliki kedudukan yang tinggi dan didefinisikan sebagai akhlak yang mulia. Secara etimologi, moral memiliki beberapa pengertian, diantaranya sebagai berikut:

  1. Menurut Ibn Miskawaih, akhlak merupakan kondisi batin yang secara alami menggerakkan seseorang untuk bertindak secara spontan tanpa perlu dipertimbangkan terlebih dahulu.
  2. Menurut Al-Ghazali, akhlak sebagai suatu kondisi rohani yang memunculkan tindakan dengan spontanitas, tanpa memerlukan proses berpikir.
  3. Menurut Ahmad Amin, akhlak sebagai hasil dari kebiasaan yang telah tertanam dalam keinginan. Kebiasaan yang terbentuk dari keinginan tersebut kemudian menjadi akhlak seseorang.
  4. Menurut Al-Jahizh, akhlak merupakan jiwa seorang individu yang tanpa pertimbangannnya mewarnai seluruh sikap serta perilaku. Akhlak begitu kuat meresap ke dalam sifat seseorang.

Dengan demikian, perbuatan bisa diklasifikasikan menjadi akhlak jikalau melewati parameter seperti di bawah:

  • Dilaksanakan beberapa kali. Jikalau tindakan ini terjadi sesekali ataupun jarang, itu tak bisa dianggap menjadi akhlak. Misal, jikalau seorang individu mendadak memberikan persembahan pada individu lainnya oleh suatu hal, orang itu tak bisa dianggap sebagai seorang dermawan dan berakhlak mulia. 
  • Dilakukan secara spontan, tanpa pertimbangan karena sudah jadi kebiasaan. Namun, jikalau sebuah perilaku dilaksanakan pasca adanya pertimbangan apalagi terpaksa, maka perbuatan tersebut bukanlah akhlak.

Bisa ditarik simpulan jikalau artian moral atau akhlak ialah perilaku serta karakteristik dimana telah terbiasakan yang membuat secara gampang menghasilkan tindakan dengan mengabaikan pertimbangan dahulu. Selanjutnya, etika mempunyai pengertian yang sama dengan akhlak. Akan tetapi, pengertian etika secara terminologis berbeda dengan akhlak karena etika memiliki 3 perspektif yaitu sebagai sistem nilai, kode moral, dan filsafat moral.

Berakhlak mulia adalah bukti iman yang sempurna. Berakhlak mulia memungkinkan seseorang masuk surga serta selamat dari neraka, berdasarkan pernyataan Rasulullah saw.:

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW. Ditanya mengenai (alasan) banyak individu masuk surga, beliau menjawab: “Bertakwalah kepada kepada Allah swt. dan berakhlak mulia”. Kemudian beliau ditanya mengenai (alasan) banyak individu masuk nereka, beliau menjawab: “Mulut dan kemaluan (akhlak tercela)”. (HR. Al-Tirmidzi).

Rasulullah SAW. memiliki standar kriteria moral dan etika yang ideal untuk generasi muda. Allah SWT. yang menyatakan jikalau Rasulullah SAW. merupakan contoh terbaik untuk setiap umat Islam dan memerintahkan kita untuk meniru sifat Rasulullah SAW. Rasulullah adalah suri tauladan yang disegani. Dia menunjukkan sifat seorang Nabi yang berkerja keras secara santun, sabar, serta ikhlas. Rasulullah menunjukkan pada umat islam cara menjadi individu pemimpin yang baik. Di lain sisi pandangan Rasul pribadi cukup tanpa harus melakukan musyawarah bersama seluruh sahabat, Rasulullah jadi pemimpin yang menuntaskan permasalahan lewat musyawarah. Setelah Rasulullah wafat, empat sahabatnya yang dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin, mengambil alih pemerintahan dan mengikuti arahan yang beliau ajarkan.

Generasi muda yang dimana nantinya jadi calon pemimpin pada masa depan seharusnya memiliki moral atau akhlak, etika yang baik guna memberikan kejayaan serta kemajuan untuk bangsa dan negara. Untuk itu, di dalam dunia pendidikan terdapat adanya pembelajaran moral dan etika dengan maksud membangun pribadi dengan akhlak mulia. Tolak ukur untuk berperilaku baik serta buruk wajib melihat ketentuan Allah SWT. Sebab hanya Allah SWT, mengetahui sedangkan kita sebagai umat muslim hanya menduga-duga. Oleh karena itu, sebagai manusia hendaknya kita mengaplikasikan perilaku baik yang berasal dari Rasulullah SAW.

Akhlak Rasulullah Saw sangat agung dan indah, menjadikannya selaku hamba panutan untuk semua orang, entah itu yang hidup di masanya ataupun masa berikutnya sampai dunia berakhir. Dengan sebab tersebut, seluruh individu yang memasuki Islam diharuskan untuk mengucapkan syahadat kepadanya dengan niat menjalani serta teladan dalam hidupannya. Wajib diingat jikalau masuk surga adalah jaminan bagi mereka yang mengakui syahadat.

Jika kita ingin hidup yang tenang dan bahagia, kita harus meneladani keteladanan kehidupannya. Pada seluruh hal dalam kehidupan keseharian, kita harus mencontoh sifat teladan dan moral beliau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Opini tentang Keterkaitan Filsafat dalam Ilmu pengetahuan dan perkembangan kriminologi di Indonesia

Jum Mei 10 , 2024
OPINI 10 Mei 2024 Rajif Irsyad Filsafat ilmu pengetahuan dan kriminologi Indonesia mempunyai kaitan erat dan saling mempengaruhi. Filsafat ilmu memberi kriminologidasar epistemologis untuk memahami sifat kejahatan, metode penelitian yang tepat, dan interpretasi temuan penelitian. Di sisi lain, kriminologi memberikan pengetahuan dan informasi empiris yang dapat digunakan untuk menguji dan […]
statue of a thinking man

You May Like